ASSALAMU'ALAIKUM
Selamat datang di blog kami.
Di blog ini kami akan membahas mengenai :
JENIS-JENIS CERITA RAKYAT SEBAGAI BERIKUT :
Selamat datang di blog kami.
Blog ini dibuat dengan tujuan untuk memenuhi tugas Ujian Praktek TIK.
Penulis :
1)
Nabilah Nurjihan
2)
Sarah Nabila Az-Zahra
3)
Silvie Salwa Lassaufa
4)
Apriyani Nur Komalasari
5)
Nurul Aini
6)
Eka Saputra Alfiyansyah
7)
Jafar Siddik
8)
Saddam Albana
JENIS-JENIS CERITA RAKYAT SEBAGAI BERIKUT :
- Mitos
- Mitos pada umumnya menceritakan tentang terjadinya alam semesta, dunia, bentuk khas binatang, bentuk topografi, petualangan para dewa, kisah percintaan mereka dan sebagainya. Contoh cerita mitos :
- Mitos pada umumnya menceritakan tentang terjadinya alam semesta, dunia, bentuk khas binatang, bentuk topografi, petualangan para dewa, kisah percintaan mereka dan sebagainya. Contoh cerita mitos :
- JAKA TARUB
Di desa Tarub, tinggallah seorang ibu bernama Mbok Randa Tarub. Ia hidup sebatang kara, oleh karenanya Mbok Randa Tarub kemudian mengangkat seorang anak laki-laki yang ia beri nama Jaka Tarub. Mbok Randa Tarub mengasuh anak angkatnya dari kecil hingga dewasa dengan penuh kasih sayang layaknya anak sendiri.
Setelah dewasa, Jaka Tarub tumbuh menjadi seorang pemuda yang rajin bekerja membantu ibunya. Jaka Tarub juga memiliki wajah sangat tampan. Sering ia berburu binatang di hutan menggunakan sumpitnya. Ketampanan dan ketangkasannya membuat banyak gadis-gadis desa jatuh hati padanya, namun Jaka Tarub belum berniat untuk berumah tangga. Mbok Randa Tarub sering berkata bahwa ia menginginkan Jaka Tarub segera menikah.
“Jaka, Mbok ingin kamu segera menikah. Usiamu telah mencukupi untuk berumah tangga. Wajahmu kan tampan, jadi mudah saja bagimu untuk mencari gadis cantik yang kamu suka.” ujar Mbok Randa Tarub suatu ketika.
“Mbok, saat ini Jaka belum menginginkan untuk memiliki pendamping hidup. Akan tiba saatnya nanti Jaka akan mencari istri.” jawab Jaka Tarub.
“Baiklah, jika itu kehendakmu Jaka. Mbok hanya mendoakan yang terbaik bagimu. Mbok sangat menyayangi Jaka.” ujar Mbok Randa.
Hingga pada suatu hari, Mbok Randa Tarub meninggal dunia karena sakit sedangkan Jaka Tarub belum juga menikah. Kepergian Mbok Randa yang telah mengasuhnya sejak kecil membuat Jaka Tarub sangat sedih. Terlebih mengingat ia belum juga menikah saat Mbok Randa meninggal. Sejak kepergian Mbok Randa, Jaka Tarub berubah menjadi seorang pemuda pemalas. Ia sering melamun sendirian karena merasa semangat hidupnya hilang.
Pada suatu siang, seperti biasa Jaka Tarub tidur di rumahnya. Di dalam tidurnya ia bermimpi memakan daging rusa amat empuk dan lezat. Ketika bangun tidur, ia merasa lapar dan ingin memakan daging rusa. Ia segera bergegas pergi ke dalam hutan untuk berburu rusa. Dengan tombaknya ia berjalan perlahan di dalam hutan mengintai barangkali ada rusa. Namun setelah sekian lama berkeliaran di dalam hutan, ia tidak juga menemukan seekor hewan buruan pun. Padahal ia sudah memasuki kawasan hutan yang belum pernah ia datangi. Karena merasa lelah, Jaka Tarub kemudian duduk beristirahat di sebuah batu besar. Tidak sadar ia kembali tertidur karena kelelahan. Pada saat tertidur, sayup-sayup ia mendengar suara-suara perempuan tengah bercanda. Ia pun terbangun untuk mencari sumber suara tersebut.
“Aku mendengar suara-suara perempuan. Aku harus mencari tahu siapa mereka?” gumam Jaka.
Setelah mencari-cari arah suara, akhirnya Jaka sadar bahwa suara tersebut berasal dari sebuah telaga. Ia pun mengendap-ngendap di sebuah batu besar di pinggir telaga. Dari balik batu, Jaka melihat ada tujuh perempuan sangat cantik tengah mandi. Ia terperanjat merasa heran, bagaimana mungkin ada tujuh perempuan cantik jelita bisa mandi di tengah pedalaman hutan.
“Sungguh aneh, siapa mereka? Kenapa mereka bisa berada di tengah hutan lebat.” ujar Jaka dalam hati.
Ketujuh perempuan tersebut sangat luar biasa cantik. Ia tidak pernah melihat perempuan secantik mereka, oleh karena itu ia sangat berhasrat untuk menikahi salah satu dari mereka. Saat ia melihat tujuh selendang tergeletak di pinggir telaga. Jaka Tarub mengambil sehelai selandang kemudian menyembunyikannya.
“Aku ingin menikahi salah satu dari mereka. Sebaiknya salah satu selendang milik mereka aku sembunyikan.” gumam Jaka.
Menjelang sore ketujuh perempuan cantik mengakhiri mandi mereka. Mereka segera berpakaian, mengenakan selendang mereka kemudian terbang ke kahyangan. Jaka Tarub akhirnya mengetahui bahwa mereka adalah bidadari kahyangan.
“Ah pantaslah mereka sangat cantik jelita, rupanya mereka bidadari kahyangan.” ujar Jaka.
Salah seorang dari perempuan yang bernama Nawang Wulan, terlihat kebingungan mencari selendangnya sementara keenam perempuan lainnya telah terbang ke kahyangan.
“Aduh, mana selendangku? Tadi aku simpan di pinggir telaga. Bagaimana ini? Kalau selendangku tidak ketemu, Aku tidak bisa pulang ke kahyangan.” ujar Nawang Wulan terlihat panik.
Nawang Wulan ternyata saudari termuda dari ketujuh bidadari tersebut. Sepeninggal keenam kakaknya, Nawang Wulan menangis tersedu-sedu. Ia merasa takut karena tidak mampu tinggal di dunia manusia. Melihat hal tersebut, Jaka Tarub segera mendekat untuk mengajak berkenalan dan menawarkan bantuan.
“Hai, ada apakah gerangan Adinda menangis sendirian di pinggir telaga? Nama saya Jaka Tarub. Saya tinggal di desa di dekat sini. Apa yang bisa saya bantu?” Jaka berpura-pura menawarkan bantuan.
“Oh, saya kehilangan selendang jadi tidak bisa kembali ke kahyangan.” kata Nawang Wulan.
“Oh, begitu kiranya. Kalau begitu Adinda boleh tinggal di rumahku, daripada tinggal sendiri di dalam hutan. Tidak usah takut, aku akan menjagamu.” kata Jaka.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan tinggal di rumahmu saja.” Nawang Wulan terpaksa menerimanya karena tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Dewi Nawang Wulan akhirnya tinggal di rumah Jaka Tarub. Tidak lama kemudian mereka menikah dan hidup berbahagia. Terlebih lagi ketika Nawang Wulan mengandung kemudian melahirkan seorang bayi perempuan. Mereka memberinya nama Nawangsih.
Kendati hidup berbahagia beserta anak dan istrinya, Jaka Tarub sudah lama merasa heran karena lumbung padi miliknya tidak pernah berkurang malah justru bertambah. Setiap hari istrinya memasak dengan mengambil beras dari lumbung padinya tapi tidak sedikit pun lumbung padinya berkurang.
“Entah kenapa padi milikku tidak pernah berkurang malah bertambah banyak. Padahal setiap hari istriku memasak.” gumam Jaka keheranan.
Hingga suatu hari, sang istri tengah menanak nasi tapi memiliki keperluan di sungai. Nawang Wulan kemudian berpesan pada suaminya untuk menjaga apinya dan jangan membuka tutup kukusan nasi. “Kakanda, aku sedang menanak nasi tapi ada keperluan sebentar di sungai. Kakanda tolong jagakan api jangan sampai mati atau terlalu besar. Tolong juga Kakanda jangan membuka tutup kukusannya.” kata Nawang Wulan.
“Baiklah. Kakanda akan menjaganya.” kata Jaka. Setelah istrinya pergi ke sungai, Jaka merasa penasaran dengan pesan isrinya untuk tidak membuka tutup kukusan nasi. Karena tidak sanggup menahan rasa ingin tahu, ia kemudian membuka kukusan nasi. Ia merasa kaget ketika mendapati di dalam kukusan hanya ada sebutir beras. “Aneh istriku hanya memasak sebutir beras. Pantas lumbung padiku tidak pernah berkurang.” Jaka berkata dalam hati.
Ketika Nawang Wulan pulang dari sungai, ia mendapati ternyata di dalam kukusan hanya terdapat sebutir beras.
“Di dalam kukusan hanya ada sebutir beras, berarti suamiku melanggar larangan dengan telah membuka kukusan ini.” kata Nawang Wulan.
Nawang Wulan ternyata memiliki kesaktian yang tidak dimiliki manusia biasa. Ia bisa menanak sebutir padi menjadi sebakul nasi. Nawang Wulan akhirnya mengerti bahwa suaminya telah membuka kukusan tersebut. Walhasil, kesaktian Nawang Wulan yang dirahasiakannya, menjadi musnah. Sebagai akibatnya, kini ia harus berkerja sebagaimana manusia biasa seperti menumbuk padi, menampi hingga menanak beras menjadi nasi. Lambat laun lumbung padi milik Jaka Tarub pun habis.
Suatu ketika Nawang Wulan hendak mengambil beras di lumbung padi. Namun sayang beras yang tersedia tinggal sedikit. Ketika mengambil sisa-sisa beras, tiba-tiba menyembul selendang miliknya yang telah lama hilang. Nawang Wulan akhirnya sadar dan marah mengetahui kenyataaan bahwa ternyata suaminyalah yang menyembunyikan selendang miliknya. Ia segera mengenakan selendang tersebut kemudian bergegas menemui suaminya.
“Suamiku. Gara-gara Kakanda membuka tutup kukusan, kesaktianku menjadi hilang dan membuat lumbung padi kita habis. Dan juga ternyata, selama ini engkau menyembunyikan selendangku. Semuanya adalah rencanamu. Sampai disini berakhir sudah hubungan kita. Aku akan kembali ke kahyangan.” kata Nawang Wulan.
“Aku minta maaf istriku. Aku mengakui semua kesalahanku. Tapi tolong jangan pergi tinggalkan aku dan anakmu, Nawangsih.” Jaka Tarub memohon pada istrinya.
“Maaf Kakanda, aku harus pulang ke kahyangan. Tolong jaga baik-baik putri kesayangan kita, Nawangsih. Tolong Kakanda buatkan dangau di dekat rumah. Letakkan Nawangsih setiap malam di dangau. Aku akan datang setiap malam untuk menyusui putri kesayangan kita. Dan tolong jangan mengintip saat aku tengah menysusui Nawangsih. Selamat Tinggal.” Nawang Wulan kemudian terbang ke kahyangan.
Jaka Tarub merasa sedih dan sangat menyesal dengan perbuatannya. Ia segera membuat dangau di dekat rumah. Dan sesuai permintaan istrinya, ia meletakkan putrinya, Nawangsih, setiap malam di dangau untuk disusui oleh Nawang Wulan.
- Legenda
- Dalam KBBI 2005, legenda adalah cerita rakyat pada zaman dahulu yang ada hubungannya dengan peristiwa sejarah. Contoh cerita Legenda :
- Sangkuriang
- Legenda
- Dalam KBBI 2005, legenda adalah cerita rakyat pada zaman dahulu yang ada hubungannya dengan peristiwa sejarah. Contoh cerita Legenda :
- Sangkuriang
Dahulu kala hiduplah seorang wanita cantik yang bernama Dayang Sumbi, ia merupakan puteri raja. Dayang Sumbi mempunyai seorang anak laki laki bernama Sangkuriang yang sangat suka pergi berburu. Hampir setiap hari Sangkuriang masuk keluar hutan dan hasilnya pun sangat memuaskan dimana ia selalu mendapatkan hewan buruan yang banyak.
Selama berburu, Sangkuriang selalu ditemani oleh seekor anjing titisan dewa bernama Tumang. Tumang merupakan suami dari Dayang Sumbi atau ayah kandung Sangkuriang. Dayang Sumbi tidak pernah memberitahu Sangkuriang bahwa ayah kandungnya seekor anjing karena tidak ingin anaknya merasa malu dan kecewa.
Sangkuriang hanya tahu bahwa ayah kandungnya telah lama meninggal dunia. Dia tidak menyadari bahwa anjing yang selalu menemaninya itulah ayah kandungnya. Kemanapun Sangkuriang pergi pasti selalu diikuti Tumang yang selalu menjaganya, Tumang juga selalu membantu Sangkuriang menangkap hewan buruan.
Pada suatu hari Sangkuriang mengajak Tumang berburu di hutan. Dengan kemampuan memanah yang baik, Sangkuriang membidik burung dan menembaknya. Burung itupun terjatuh, namun ketika Sangkuriang memerintah Tumang untuk mengambil burung hasil buruan tersebut, sang anjing tidak patuh.
Sangkuriang pun murka, hingga akhirnya ia memukul Tumang dengan sebatang kayu hingga mati . Sangkuriang sangat kesal karena Tumang tidak menuruti perintah dari Sangkuriang. Setelah Tumang mati, Sangkuriang lantas membelah perut Tumang, mengambil hatinya untuk dibawah pulang. Setibanya dirumah, seperti biasa Sangkuriang memberikan hasil buruan kepada Dayang Sumbi untuk dimasak. Sangkuriang juga memberikan hati milik anjing kesayangannya yang sudah mati, Tumang.
Setelah makan hidangan hasil buruan tadi, Dayang Sumbi mencari cari Tumang dengan maksud untuk memberi makan anjing kesayangan anaknya. Seluruh rumah dan halaman sudah diperiksa namun Dayang Sumbi tidak juga menemukan Tumang. Dayang Sumbi pun bertanya kepada Sangkuriang dimana keberadaan Tumang.
Dengan mudahnya Sangkuriang berkata bahwa Tumang sudah ia bunuh karena tidak patuh menuruti perintahnya. Sangkuriang pun mengatakan, masakan yang mereka makan merupakan daging Tumang. Dayang Sumbi pun murka dan memukul kepala Sangkuriang dengan sendok nasi dan mengusirnya dari rumah.
Keputusan Dayang Sumbi mengusir Sangkuriang tersebut membawa rasa penyesalan yang begitu dalam. Pada akhirnya Dayang Sumbi memutuskan untuk pergi bersemedi selama berbulan bulan lamanya. Hingga akhirnya Sang Dewa memberikan karunia kepada Dayang Sumbi yakni selalu awet muda dan tidak pernah menjadi tua. Dayang Sumbi juga mendapatkan kecantikan abadi.
Setelah diusir oleh ibunya, Sangkuriang akhirnya pergi mengembara tanpa tujuan. Perjalanan yang sangkuriang tempuh tidak menentu. Sangkuriang berkali kali singgah dan berguru dengan banyak orang orang sakti selama bertahun tahun. Tak terasa Sangkuriang tumbuh besar menjadi pria gagah, tampan dan berilmu tinggi.
Pada suatu ketika, Sangkuriang pun kembali ke desa tempat tinggalnya dahulu dan ia merasa sangat terkejut dengan perubahan desa. Desa yang dulunya menjadi rumah sewaktu masa kecilnya. Karena itulah Sangkuriang tidak mengenali lagi orang orang didesanya termasuk Dayang Sumbi.
Singkat cerita Sangkuriang akhirnya bertemu dengan ibunya, namun karena wajah Dayang Sumbi sudah berubah menjadi sangat cantik setelah mendapatkan karunia dewa. Sangkuriang tidak mengenali lagi wajah ibunya begitu juga Dayang Sumbi juga tidak mengenali lagi Sangkuriang.
Keduanya sering bertemu dan akhirnya saling jatuh cinta. Sangkuriang begitu terpersona dengan kecantikan Dayang Sumbi dan hendak segera melamarnya. Awalnya Dayang Sumbi menerima lamaran Sangkuriang, namun tiba tiba pada suatu hari sewaktu mereka sedang memadu kasih, tanpa sengaja ikat kepala Sangkuriang terlepas.
Dayang Sumbi bermaksud merapihkan kembali ikat kepala Sangkuriang, namun Dayang Sumbi akhirnya terkejut melihat bekas luka pada kepala Sangkuriang. Ia pun menanyakan asal muasal bekas luka tersebut kepada Sangkuriang dan setelah mendengar ucapan Sangkuriang yang menyebutkan bahwa luka tersebut disebabkan oleh pukulan ibunya sewaktu masih kecil dulu karena membunuh anjing kesayangannya maka semakin yakinlah Dayang Sumbi bahwa kekasihnya tersebut tak lain merupakan anak kandungnya yang sudah lama menghilang.
Dayang Sumbi kemudian menjelaskan kepada Sangkuriang bahwa mereka adalah ibu dan anak yang sudah lama terpisah, namun Sangkuriang tidak mempercayai ucapan Dayang Sumbi lantaran wajah Dayang Sumbi sama muda dengan dirinya. Sangkuriang beralasan wajah ibunya saat ini pastinya sudah tua dan ia tidak mempercayai ucapan Dayang Sumbi sama sekali.
Sangkuriang terus mendesak Dayang Sumbi untuk segera menikah namun selalu saja mendapat penolakan. Ibu mana yang mau menikah dengan anak kandung sendiri, demikianlah hal yang dipikir Dayang Sumbi berkali kali.
Dayang Sumbi bersikeras menolak lamaran Sangkuriang dan mencoba menghindar untuk tidak bertemu dengan anaknya lagi. Karena bosan diteror terus menerus oleh Sangkuriang, Dayang Sumbi akhirnya mau menerima lamaran asalkan Sangkuriang mampu memenuhi 2 syarat yang diajukannya.
Karena Dayang Sumbi memang tidak berniat menikah dengan Sangkuriang, dibuatkanlah syarat yang sangat berat dengan maksud supaya Sangkuriang tidak akan sanggup memenuhinya dan akhirnya bisa membatalkan pernikahannya dengan Sangkuriang.
Syarat pertama yaitu Dayang Sumbi meminta Sangkuriang membendung sungai Citarum untuk dijadikan danau yang luas dan syarat kedua meminta dibuatkan kapal besar untuk bulan madu mereka nantinya hanya dalam waktu satu malam saja. Karena kesaktiannya Sangkuriang pun menyanggupi persyaratan yang diajukan Dayang Sumbi tersebut.
Pada hari yang ditentukan, Sangkuriang mulai membendung aliran sungai citarum, namun ia tidak sendiri melainkan dibantu oleh bangsa Jin. Karena kesaktiaannya, Sangkuriang bisa memanggil ratusan Jin untuk datang membantunya membendung sungai Citarum. Dalam waktu singkat Sungai citarum akhirnya berhasil dibendung, perlahan namun pasti terbentuk sebuah danau yang luas.
Setelah selesai menyelesaikan syarat pertama, Sangkuriang kemudian memerintahkan para Jin mengambil kayu terbaik di hutan untuk dijadikan bahan utama pembuatan kapal besar. Tidak butuh waktu yang lama bagi bangsa Jin melakukan apa yang diperintahkan Sangkuriang. Dayang Sumbi yang sejak tadi diam diam melihat dari kejauhan merasa panik karena pekerjaan Sangkuriang hampir selesai.
Dayang Sumbi kembali ke perkampungan, membangunkan dan memerintahkan warga untuk memukul alu dan menghidupkan api secara bersama sama sehingga langit menjadi terang. Bangsa Jin yang membantu Sangkuriang mengira hari sudah pagi sehingga memutuskan untuk menghentikan pekerjaannyadan kembali ke alamnya.
Pekerjaan membuat perahu yang hampir selesai itupun gagal dan Sangkuriang pun murka setelah menyadari Dayang Sumbi menipu dirinya dengan sengaja membunyi alu supaya tampak seperti fajar. Dengan sangat marah, Sangkuriang membuang sumbatan yang membendung sungai Citarum ke arah timur dan menjadi gunung Manglayang. Sementara itu perahu besar yang ia buat ditendang hingga melayang di udara dan terjatuh tertelungkup menjadi gunung Tangkuban Perahu.
Tidak hanya sampai disitu, Sangkuriang kemudian mengejar Dayang Sumbi hingga ke Gunung Putri. Ketika hampir tertangkap, Dayang Sumbi berubah wujud menjadi sekuntum bunga. Sementara itu Sangkuriang tetap mencari Dayang Sumbi hingga kawasan ujung Berung, disana Sangkuriang tersesat dan masuk kealam gaib.
- Dongeng
- Dongeng merupakan suatu kisah yang diangkat dari pemikiran fiktif dan kisah nyata, menjadi suatu alur perjalanan hidup dengan pesan moral yang mengandung makna hidup dan cara berinteraksi dengan makhluk lainnya. Contoh cerita dongeng :
- Gembala Dan Sapinya Yang Hilang
Pada suatu hari, ada seorang Gembala yang pulang dari kota sehabis membeli sapi. Di tengah perjalanan gembala itu merasa kelelahan dan akhirnya dia memutuskan untuk tidur di bawah pohon rindang sambil memberi sapinya makan, sangking lelahnya si gembala manjadi tidur dan membiarkan sapinya makan sendirian tanpa diikat di suatu pohon. Tiba-tiba seorang pedagang lewat dari jalan tersebut, dan melihat sapi seseorang telah lepas tanpa berpikir panjang si pedagang tersebut langsung mengambil sapi itu dan membawa sapi tersebut pergi.
Sang gembala pun terbangun, lalu ia langsung tersentak ia melihat sapi tidak ada lagi ia berkata di dalam benaknya, “ke mana sapi saya, tadi kan sapi saya ada di sini tapi sekarang tidak ada,” lalu ia pun menelusuri jalan tersebut dan menampak seorang pedagang membawa seekor sapi. Si penggembala berkata, “pedagang dari mana kau dapat sapimu itu,”
Lalu si padangang menjawab, “saya tidak mendapatnya, saya membelinya dari kota,”
Lantas si penggembala pun berkata, “tidak mungkin kau mendapatkannya dari pinggir jalan tempat aku tidur tadi kan?” lalu dengan muka merah dan pucat si pedangang berkata, “terserah kau saja, aku sudah mengatakannya, aku membeli ini dari kota.”
Tiba-tiba seorang hakim pun lewat, ia berkata, “ada apa kalian ini ribut-ribut?” Si pedagang pun berkata, “yang mulia hakim, si penggembala ini menuduh saya telah mencuri sapi, padahal saya tidak mencurinya” jelas si pedagang.
Lalu sang hakim pun berkata, “apakah benar yang dikatakan pedagang ini?”“tidak!” tegas si penggembala, “dia sudah jelas-jelas mencurinya, aku tadi habis membelinya dari kota lalu, aku beristirahat dan memberi makan sapi saya makan rumput, lalu setelah itu saya tidur dan setelah tidur saya melihat sapi saya sudah tidak ada lalu saya menelusuri jalan ini dan melihat si pedagang membawa seekor sapi” jelas panjang lebar si penggembala.
Sang hakim pun berkata, “apakah kau memberi makan sapi ini?” Dan si pedadang pun menjawab, “Ya, saya memberi makan dengan gandum” Lalu sang hakim berpikir sejenak dan berkata, “mari ikutlah denganku ke rumah.”
Sesampainya di rumah, sang hakim pun membawa baskom berisi susu yang dicampur dengan minyak goreng dan menyuruh sapi itu untuk minum. Sapi itu pun meminumnya dan tiba-tiba sapi itu merasa mual dan muntah. Ternyata sapi tersebut memuntahkan rumput, lalu sang hakim pun berkata, “pedagang lihat ini, sapi ini memuntahkan rumput bukannya gandum.” ucap Hakim. “Iya, tuanku, aku merasa bersalah” kata si pedagang, lalu si pedagang memberikan sapi itu kepada si penggembala dan meminta maaf dengan wajah yang pucat dan merah.
Dahulu kala hiduplah seorang wanita cantik yang bernama Dayang Sumbi, ia merupakan puteri raja. Dayang Sumbi mempunyai seorang anak laki laki bernama Sangkuriang yang sangat suka pergi berburu. Hampir setiap hari Sangkuriang masuk keluar hutan dan hasilnya pun sangat memuaskan dimana ia selalu mendapatkan hewan buruan yang banyak.
Selama berburu, Sangkuriang selalu ditemani oleh seekor anjing titisan dewa bernama Tumang. Tumang merupakan suami dari Dayang Sumbi atau ayah kandung Sangkuriang. Dayang Sumbi tidak pernah memberitahu Sangkuriang bahwa ayah kandungnya seekor anjing karena tidak ingin anaknya merasa malu dan kecewa.
Sangkuriang hanya tahu bahwa ayah kandungnya telah lama meninggal dunia. Dia tidak menyadari bahwa anjing yang selalu menemaninya itulah ayah kandungnya. Kemanapun Sangkuriang pergi pasti selalu diikuti Tumang yang selalu menjaganya, Tumang juga selalu membantu Sangkuriang menangkap hewan buruan.
Pada suatu hari Sangkuriang mengajak Tumang berburu di hutan. Dengan kemampuan memanah yang baik, Sangkuriang membidik burung dan menembaknya. Burung itupun terjatuh, namun ketika Sangkuriang memerintah Tumang untuk mengambil burung hasil buruan tersebut, sang anjing tidak patuh.
Sangkuriang pun murka, hingga akhirnya ia memukul Tumang dengan sebatang kayu hingga mati . Sangkuriang sangat kesal karena Tumang tidak menuruti perintah dari Sangkuriang. Setelah Tumang mati, Sangkuriang lantas membelah perut Tumang, mengambil hatinya untuk dibawah pulang. Setibanya dirumah, seperti biasa Sangkuriang memberikan hasil buruan kepada Dayang Sumbi untuk dimasak. Sangkuriang juga memberikan hati milik anjing kesayangannya yang sudah mati, Tumang.
Setelah makan hidangan hasil buruan tadi, Dayang Sumbi mencari cari Tumang dengan maksud untuk memberi makan anjing kesayangan anaknya. Seluruh rumah dan halaman sudah diperiksa namun Dayang Sumbi tidak juga menemukan Tumang. Dayang Sumbi pun bertanya kepada Sangkuriang dimana keberadaan Tumang.
Dengan mudahnya Sangkuriang berkata bahwa Tumang sudah ia bunuh karena tidak patuh menuruti perintahnya. Sangkuriang pun mengatakan, masakan yang mereka makan merupakan daging Tumang. Dayang Sumbi pun murka dan memukul kepala Sangkuriang dengan sendok nasi dan mengusirnya dari rumah.
Keputusan Dayang Sumbi mengusir Sangkuriang tersebut membawa rasa penyesalan yang begitu dalam. Pada akhirnya Dayang Sumbi memutuskan untuk pergi bersemedi selama berbulan bulan lamanya. Hingga akhirnya Sang Dewa memberikan karunia kepada Dayang Sumbi yakni selalu awet muda dan tidak pernah menjadi tua. Dayang Sumbi juga mendapatkan kecantikan abadi.
Setelah diusir oleh ibunya, Sangkuriang akhirnya pergi mengembara tanpa tujuan. Perjalanan yang sangkuriang tempuh tidak menentu. Sangkuriang berkali kali singgah dan berguru dengan banyak orang orang sakti selama bertahun tahun. Tak terasa Sangkuriang tumbuh besar menjadi pria gagah, tampan dan berilmu tinggi.
Pada suatu ketika, Sangkuriang pun kembali ke desa tempat tinggalnya dahulu dan ia merasa sangat terkejut dengan perubahan desa. Desa yang dulunya menjadi rumah sewaktu masa kecilnya. Karena itulah Sangkuriang tidak mengenali lagi orang orang didesanya termasuk Dayang Sumbi.
Singkat cerita Sangkuriang akhirnya bertemu dengan ibunya, namun karena wajah Dayang Sumbi sudah berubah menjadi sangat cantik setelah mendapatkan karunia dewa. Sangkuriang tidak mengenali lagi wajah ibunya begitu juga Dayang Sumbi juga tidak mengenali lagi Sangkuriang.
Keduanya sering bertemu dan akhirnya saling jatuh cinta. Sangkuriang begitu terpersona dengan kecantikan Dayang Sumbi dan hendak segera melamarnya. Awalnya Dayang Sumbi menerima lamaran Sangkuriang, namun tiba tiba pada suatu hari sewaktu mereka sedang memadu kasih, tanpa sengaja ikat kepala Sangkuriang terlepas.
Dayang Sumbi bermaksud merapihkan kembali ikat kepala Sangkuriang, namun Dayang Sumbi akhirnya terkejut melihat bekas luka pada kepala Sangkuriang. Ia pun menanyakan asal muasal bekas luka tersebut kepada Sangkuriang dan setelah mendengar ucapan Sangkuriang yang menyebutkan bahwa luka tersebut disebabkan oleh pukulan ibunya sewaktu masih kecil dulu karena membunuh anjing kesayangannya maka semakin yakinlah Dayang Sumbi bahwa kekasihnya tersebut tak lain merupakan anak kandungnya yang sudah lama menghilang.
Dayang Sumbi kemudian menjelaskan kepada Sangkuriang bahwa mereka adalah ibu dan anak yang sudah lama terpisah, namun Sangkuriang tidak mempercayai ucapan Dayang Sumbi lantaran wajah Dayang Sumbi sama muda dengan dirinya. Sangkuriang beralasan wajah ibunya saat ini pastinya sudah tua dan ia tidak mempercayai ucapan Dayang Sumbi sama sekali.
Sangkuriang terus mendesak Dayang Sumbi untuk segera menikah namun selalu saja mendapat penolakan. Ibu mana yang mau menikah dengan anak kandung sendiri, demikianlah hal yang dipikir Dayang Sumbi berkali kali.
Dayang Sumbi bersikeras menolak lamaran Sangkuriang dan mencoba menghindar untuk tidak bertemu dengan anaknya lagi. Karena bosan diteror terus menerus oleh Sangkuriang, Dayang Sumbi akhirnya mau menerima lamaran asalkan Sangkuriang mampu memenuhi 2 syarat yang diajukannya.
Karena Dayang Sumbi memang tidak berniat menikah dengan Sangkuriang, dibuatkanlah syarat yang sangat berat dengan maksud supaya Sangkuriang tidak akan sanggup memenuhinya dan akhirnya bisa membatalkan pernikahannya dengan Sangkuriang.
Syarat pertama yaitu Dayang Sumbi meminta Sangkuriang membendung sungai Citarum untuk dijadikan danau yang luas dan syarat kedua meminta dibuatkan kapal besar untuk bulan madu mereka nantinya hanya dalam waktu satu malam saja. Karena kesaktiannya Sangkuriang pun menyanggupi persyaratan yang diajukan Dayang Sumbi tersebut.
Pada hari yang ditentukan, Sangkuriang mulai membendung aliran sungai citarum, namun ia tidak sendiri melainkan dibantu oleh bangsa Jin. Karena kesaktiaannya, Sangkuriang bisa memanggil ratusan Jin untuk datang membantunya membendung sungai Citarum. Dalam waktu singkat Sungai citarum akhirnya berhasil dibendung, perlahan namun pasti terbentuk sebuah danau yang luas.
Setelah selesai menyelesaikan syarat pertama, Sangkuriang kemudian memerintahkan para Jin mengambil kayu terbaik di hutan untuk dijadikan bahan utama pembuatan kapal besar. Tidak butuh waktu yang lama bagi bangsa Jin melakukan apa yang diperintahkan Sangkuriang. Dayang Sumbi yang sejak tadi diam diam melihat dari kejauhan merasa panik karena pekerjaan Sangkuriang hampir selesai.
Dayang Sumbi kembali ke perkampungan, membangunkan dan memerintahkan warga untuk memukul alu dan menghidupkan api secara bersama sama sehingga langit menjadi terang. Bangsa Jin yang membantu Sangkuriang mengira hari sudah pagi sehingga memutuskan untuk menghentikan pekerjaannyadan kembali ke alamnya.
Pekerjaan membuat perahu yang hampir selesai itupun gagal dan Sangkuriang pun murka setelah menyadari Dayang Sumbi menipu dirinya dengan sengaja membunyi alu supaya tampak seperti fajar. Dengan sangat marah, Sangkuriang membuang sumbatan yang membendung sungai Citarum ke arah timur dan menjadi gunung Manglayang. Sementara itu perahu besar yang ia buat ditendang hingga melayang di udara dan terjatuh tertelungkup menjadi gunung Tangkuban Perahu.
Tidak hanya sampai disitu, Sangkuriang kemudian mengejar Dayang Sumbi hingga ke Gunung Putri. Ketika hampir tertangkap, Dayang Sumbi berubah wujud menjadi sekuntum bunga. Sementara itu Sangkuriang tetap mencari Dayang Sumbi hingga kawasan ujung Berung, disana Sangkuriang tersesat dan masuk kealam gaib.
- Dongeng
- Dongeng merupakan suatu kisah yang diangkat dari pemikiran fiktif dan kisah nyata, menjadi suatu alur perjalanan hidup dengan pesan moral yang mengandung makna hidup dan cara berinteraksi dengan makhluk lainnya. Contoh cerita dongeng :
- Gembala Dan Sapinya Yang Hilang
Pada suatu hari, ada seorang Gembala yang pulang dari kota sehabis membeli sapi. Di tengah perjalanan gembala itu merasa kelelahan dan akhirnya dia memutuskan untuk tidur di bawah pohon rindang sambil memberi sapinya makan, sangking lelahnya si gembala manjadi tidur dan membiarkan sapinya makan sendirian tanpa diikat di suatu pohon. Tiba-tiba seorang pedagang lewat dari jalan tersebut, dan melihat sapi seseorang telah lepas tanpa berpikir panjang si pedagang tersebut langsung mengambil sapi itu dan membawa sapi tersebut pergi.
Sang gembala pun terbangun, lalu ia langsung tersentak ia melihat sapi tidak ada lagi ia berkata di dalam benaknya, “ke mana sapi saya, tadi kan sapi saya ada di sini tapi sekarang tidak ada,” lalu ia pun menelusuri jalan tersebut dan menampak seorang pedagang membawa seekor sapi. Si penggembala berkata, “pedagang dari mana kau dapat sapimu itu,”
Lalu si padangang menjawab, “saya tidak mendapatnya, saya membelinya dari kota,”
Lantas si penggembala pun berkata, “tidak mungkin kau mendapatkannya dari pinggir jalan tempat aku tidur tadi kan?” lalu dengan muka merah dan pucat si pedangang berkata, “terserah kau saja, aku sudah mengatakannya, aku membeli ini dari kota.”
Tiba-tiba seorang hakim pun lewat, ia berkata, “ada apa kalian ini ribut-ribut?” Si pedagang pun berkata, “yang mulia hakim, si penggembala ini menuduh saya telah mencuri sapi, padahal saya tidak mencurinya” jelas si pedagang.
Lalu sang hakim pun berkata, “apakah benar yang dikatakan pedagang ini?”“tidak!” tegas si penggembala, “dia sudah jelas-jelas mencurinya, aku tadi habis membelinya dari kota lalu, aku beristirahat dan memberi makan sapi saya makan rumput, lalu setelah itu saya tidur dan setelah tidur saya melihat sapi saya sudah tidak ada lalu saya menelusuri jalan ini dan melihat si pedagang membawa seekor sapi” jelas panjang lebar si penggembala.
Sang hakim pun berkata, “apakah kau memberi makan sapi ini?” Dan si pedadang pun menjawab, “Ya, saya memberi makan dengan gandum” Lalu sang hakim berpikir sejenak dan berkata, “mari ikutlah denganku ke rumah.”
Sesampainya di rumah, sang hakim pun membawa baskom berisi susu yang dicampur dengan minyak goreng dan menyuruh sapi itu untuk minum. Sapi itu pun meminumnya dan tiba-tiba sapi itu merasa mual dan muntah. Ternyata sapi tersebut memuntahkan rumput, lalu sang hakim pun berkata, “pedagang lihat ini, sapi ini memuntahkan rumput bukannya gandum.” ucap Hakim. “Iya, tuanku, aku merasa bersalah” kata si pedagang, lalu si pedagang memberikan sapi itu kepada si penggembala dan meminta maaf dengan wajah yang pucat dan merah.
Pada suatu hari, ada seorang Gembala yang pulang dari kota sehabis membeli sapi. Di tengah perjalanan gembala itu merasa kelelahan dan akhirnya dia memutuskan untuk tidur di bawah pohon rindang sambil memberi sapinya makan, sangking lelahnya si gembala manjadi tidur dan membiarkan sapinya makan sendirian tanpa diikat di suatu pohon. Tiba-tiba seorang pedagang lewat dari jalan tersebut, dan melihat sapi seseorang telah lepas tanpa berpikir panjang si pedagang tersebut langsung mengambil sapi itu dan membawa sapi tersebut pergi.
Sang gembala pun terbangun, lalu ia langsung tersentak ia melihat sapi tidak ada lagi ia berkata di dalam benaknya, “ke mana sapi saya, tadi kan sapi saya ada di sini tapi sekarang tidak ada,” lalu ia pun menelusuri jalan tersebut dan menampak seorang pedagang membawa seekor sapi. Si penggembala berkata, “pedagang dari mana kau dapat sapimu itu,”
Lalu si padangang menjawab, “saya tidak mendapatnya, saya membelinya dari kota,”
Lantas si penggembala pun berkata, “tidak mungkin kau mendapatkannya dari pinggir jalan tempat aku tidur tadi kan?” lalu dengan muka merah dan pucat si pedangang berkata, “terserah kau saja, aku sudah mengatakannya, aku membeli ini dari kota.”
Tiba-tiba seorang hakim pun lewat, ia berkata, “ada apa kalian ini ribut-ribut?” Si pedagang pun berkata, “yang mulia hakim, si penggembala ini menuduh saya telah mencuri sapi, padahal saya tidak mencurinya” jelas si pedagang.
Lalu sang hakim pun berkata, “apakah benar yang dikatakan pedagang ini?”“tidak!” tegas si penggembala, “dia sudah jelas-jelas mencurinya, aku tadi habis membelinya dari kota lalu, aku beristirahat dan memberi makan sapi saya makan rumput, lalu setelah itu saya tidur dan setelah tidur saya melihat sapi saya sudah tidak ada lalu saya menelusuri jalan ini dan melihat si pedagang membawa seekor sapi” jelas panjang lebar si penggembala.
Sang hakim pun berkata, “apakah kau memberi makan sapi ini?” Dan si pedadang pun menjawab, “Ya, saya memberi makan dengan gandum” Lalu sang hakim berpikir sejenak dan berkata, “mari ikutlah denganku ke rumah.”
Sesampainya di rumah, sang hakim pun membawa baskom berisi susu yang dicampur dengan minyak goreng dan menyuruh sapi itu untuk minum. Sapi itu pun meminumnya dan tiba-tiba sapi itu merasa mual dan muntah. Ternyata sapi tersebut memuntahkan rumput, lalu sang hakim pun berkata, “pedagang lihat ini, sapi ini memuntahkan rumput bukannya gandum.” ucap Hakim. “Iya, tuanku, aku merasa bersalah” kata si pedagang, lalu si pedagang memberikan sapi itu kepada si penggembala dan meminta maaf dengan wajah yang pucat dan merah.
Komentar
Posting Komentar